Jumat, 08 Juli 2016

Titik Jenuh

Kurasa cukup keras ku berpikir mengapa aku berhenti. Kita bagaikan sepasang sepatu sandal yang cantik namun tidak sejalan. Ku coba runtuhkan dinding pemisah diantara kita, dan ku sulam benang tak terlihat untuk menyatukan kita. Entah hanya aku yang merasa bahwa kau berusaha merobeknya, atau memang kau yang merobeknnya. Kau tau aku selalu memperbaikinya.

Mungkin ini memang harus kita lakukan. Berjalan menjauh satu sama lain menuju arah yang hati kita tentukan. Menghampiri kesunyian untuk mencari dan mnemukan. Menemukan jawaban yang dapat menjadi kunci dari semua permasalahan.

Ku katakan ini bukanlah keretakan. Ini sebuah pilihan yang kau dan aku inginkan. Dan sampailah aku pada titik yang tak bisa kau gapai. Titik dimana semua orang mungkin memilikinya. Titik yang dapat membuat seseorang merenung. Ku ukir setiap saat ku bersamamu, bagai klise yang usang namun unik untuk dikenang. Dititik jenuh ku bertahan.

Senin, 04 Juli 2016

Mundur?

Senang bisa mengenal dirimu. Orang yang bisa membuatku lupa akan semua masa laluku. Kau yang sanggup mengisi kekosongan hatiku. Kau yang mengingatkan ku bagaimana caranya tersenyum..

Diam-diam ku melangkah masuk lebih dalam dari tempatku. Kutemukan batas yang diselimuti kabut dengan hawa yang sangat dingin. Ada apa ini?

Ini Aku..
Aku mencoba meyakinimu. Aku dan hanyalah aku. Bukan dia atau dirinya. Aku yang selalu kau beri senyuman hangat setiap kali ku menatapmu..
Bukannya aku ingin menghentikan langkahku. Bukan pula ku melangkah mundur dari tempatmu. Hanya saja ku tak tahu bagaimana cara menghapus memori tentang masa lalu mu. Seperti yang kau lakukan padaku. Tentang dia atau dirinya. Atau siapa saja yang membuatku terluka..